Selasa, 25 September 2012

Tarbiyah, jalan menuju perubahan


oleh Cahyadi Takariawan

Akhir-akhir ini saya sering diminta mengisi sesi Sekolah Murabbi yang diadakan para aktivis dakwah di berbagai tempat. Sebuah program yang sangat strategis untuk membentuk kepribadian, pengetahuan, ketrampilan para murabbi yang akan diterjunkan melakukan proses pembinaan (tarbiyah) di tengah masyarakat. Sebenarnya, siapakah murabbi, dan apakah tarbiyah itu?

Murabbi atau pembina adalah sosok pribadi yang melaksanakan kegiatan tarbiyah, yaitu membina, membimbing, mendidik satu atau beberapa kelompok kader, yang mengarahkan para kader tersebut menuju kepada sejumlah tujuan yang telah ditentukan. Setiap kelompok, terdiri dari beberapa orang binaan, bisa lima orang, sepuluh atau bahkan limapuluh dan seratus orang. Mereka memiliki suatu ikatan dalam sebuah tatanan, yang memiliki tujuan bersama.

Dalam sebuah kegiatan pembinaan (tarbiyah), ada interaksi aktif dan positif antara seorang pembina dengan para anggota binaannya. Ciri kegiatan pembinaan yang dimaksud adalah, (a) merupakan aktivitas sebuah jama’ah (b) memiliki tujuan yang terdefinisikan (c) memiliki sistem yang jelas, baik dalam aspek kurikulum, metoda pembinaan, tahapan, penilaian, evaluasi dan promosi (d) ada interaksi timbal balik yang sangat dekat dan mempribadi antara pembina dengan peserta dan antara sesama peserta, yang sesuai dengan tujuan pembinaan (e) pertemuan bersifat rutin dengan kegiatan yang variatif.

Keseluruhan atau sebagian ciri-ciri tersebut tidak dijumpai dalam sebuah acara tabligh akbar atau kegiatan dakwah ‘amah lainnyaIkatan yang terjadi di dalam sebuah proses pembinaan (tarbiyah) adalah ikatan kejama’ahan, ikatan tujuan, ikatan sistem, selain juga ada ikatan emosional, ikatan moral dan ikatan keilmuan.



Tarbiyah adalah Transformasi

Dalam sebuah proses pembinaan, ada empat transformasi yang terjadi sekaligus. Pertama, transformasi spiritual. Kedua, transformasi moral. Ketiga, transformasi intelektual. Keempat, transformasi amal. Keseluruhan transformasi ini harus taerjadi dalam suatu proses yang bersamaan untuk mendapatkan hasil pembinaan yang optimal seperti yang diharapkan.

Cobalah bandingkan dengan interaksi yang terjadi di lembaga pendidikan formal dewasa ini. Banyak lembaga pendidikan yang semata-mata melakukan transformasi intelektual dan menafikan tiga transformasi lainnya. Di kelas terjadi interaksi searah antara dosen atau guru dengan mahasiswa atau murid. Dosen mengajarkan mata kuliah, mahasiswa mengikuti kuliah. Guru memberi pelajaran, murid mendengarkan dan (sesekali waktu) bertanya.

Dalam konteks industri pendidikan, telah terjadi semacam proses jual beli atau bisnis, yang –sedemikian rupa kondisinya, sehingga meniadakan interaksi kemanusiaan di dalamnya. Tak heran jika para pengamat pendidikan mengkritisi kondisi industrialisasi pendidikan tersebut sebagai sesuatu yang berdampak dehumanisasi. Paulo Freire, misalnya, ia mengembangkan wacana pendidikan yang humanis, ungkapan antagonistik dari sistem pendidikan dominasi dan dehumanisasi.

Pendidikan Adalah Pemberdayaan

Dalam pandangan Freire, salah satu perbedaan utama antara pendidikan sebagai sebuah kewajiban humanis dan liberal di satu sisi, dengan dominasi dan dehumanisasi di sisi yang lain, adalah bahwa dehumanisasi merupakan proses transformasi ilmu pengetahuan, sedangkan humanisasi merupakan proses pemberdayaan masyarakat melalui ilmu pengetahuan. Dalam perspektif dakwah, yang dituntut dalam proses pembinaan tidak sekadar “humanis” (insaniyah), lebih dari itu haruslah berorientasi transenden (Rabbaniyah).

Dalam hubungannya dengan kesadaran manusia dan dunia, menurut Freire, pendidikan yang dilihat sebagai bentuk dominasi menganggap kesadaran manusia semata-mata merupakan wadah kosong yang harus diisi; sedangkan pendidikan sebagai sebuah proses pembebasan dan humanisasi memandang bahwa kesadaran itu sebagai suatu ‘hasrat’ (intention) terhadap dunia. Selanjutnya Freire menambahkan:

“Dengan mengasumsikan pendidikan sebagai proses dominasi, orang yang menguasai ilmu pengetahuan justru meniadakan prinsip kesadaran aktif. Pendidikan ini menjalankan praktik-praktik yang digunakan orang untuk ‘menjinakkan’ kesadaran manusia, mentransformasikannya ke dalam sebuah wadah kosong. Pendidikan budaya dalam dominasi ini diarahkan pada situasi dimana guru merupakan satu-satunya orang yang mengetahui dan mengajarkan ilmu pengetahuan kepada peserta didik sebagai orang yang tidak tahui apa-apa”.

Dalam proses pembinaan, yang terjadi haruslah sebuah pemberdayaan yang aktif. Kendatipun ada kekuatan dominasi karena otoritas pembina, tetapi tidak boleh mengarah kepada prosesi pendidikan yang melakukan praktik “penghilangan kesadaran aktif” para peserta pembinaan. Dalam proses pembinaan kader, tak sekadar terjadi transformasi pengetahuan secara sepihak dan searah dari pembina kepada peserta atau binaan, akan tetapi terjadi proses pembelajaran bersama sebagai wujud kesadaran kosmopolis manusia terhadap Allah dan keberadaan mereka di alam.

Dalam bahasa Freire, pendidikan dan aksi budaya yang membebaskan, “merupakan proses yang otentik untuk mencari ilmu pengetahuan guna memenuhi hasrat keinginan peserta didik dan guru dengan kesadaran untuk menciptakan ilmu pengetahuan baru”. Dalam konteks dakwah, interaksi yang terjadi pada proses pembinaan tidak boleh terkungkung hanya kepada upaya untuk menghafalkan teori-teori, atau mengumpulkan konsep-konsep, akan tetapi harus sampai kepada dataran pencarian-pencarian makna serta hakikat yang lebih mendalam untuk mendapatkan kebaruan: kebaruan iman, kebaruan semangat, kebaruan cita-cita.

Di sinilah pendidikan modern telah meninggalkan transformasi yang amat penting, yakni transformasi spiritual, moral dan amal. Satu-satunya yang terjadi hanyalah transmormasi intelektual. Dengan demikian, seorang sarjana lulusan sebuah perguruan tinggi, tidak dijamin memiliki kekokohan spiritualitas, kekuatan moral serta kebagusan amal, karena aspek-aspek tersebut memang tidak tertransformasikan di ruangan kuliah.



Transformasi Melalui Pribadi Murabbi

Amat berbeda kondisinya dengan kegiatan tarbiyah (pembinaan). Seorang pembina dalam sebuah prose pembinaan, mengelola berbagai macam kegiatan untuk melakukan berbagai tarnsformasi teraebut secara optimal. Dengan demikian, kader yang mengikuti kegiatan pembinaan akan tercerahkan secara spiritual, moral, intelektual namun juga memiliki kunggulan amal. Pembinaan tidak semata-mata transfer ilmu, namun juga mentransfer ruhiyah, semangat, komitmen, akhlaq, ibadah, juga kepribadian secara utuh.

Tatkala seorang pembina mendoakan kader yang dibina, yang tengah terjadi adalah transformasi spiritual. Dalam keheningan malam, seorang pembina bangun untuk shalat malam, dan dengan khusyuk munajat kepada Allah, menyebut nama-nama binaannya, mendoakan mereka. Tatkala melakukan mabit, sang pembina bersama para kader melakukan shalat malam bersama, membaca wirid dan dzikir, shalat shubuh berjama’ah , keseluruhannya adalah transformasi spiritual dalam pembinaan.

Ketika pembina berinteraksi dengan para kader dengan memberikan keteladanan perilaku, yang tengah terjadi adalah proses transformasi moral. Para kader melihat bahwa sang pembina tidak hanya berteori, tidak hanya menyampaikan sejumlah ajaran, akan tetapi ia tengah melaksanakan apa yang senantiasa diajarkan. Para kader melihat ketulusan, kesungguhan, keikhlasan sang pembina dalam berinteraksi dengan mereka. Inilah yang telah dilakukan oleh Rasiulullah saw tatkala membina para sahabat beliau. Rasul saw menghiasi akhlaq para sahabat dengan keindahan akhlaq beliau.

Pada saat pembina menyampaikan materi pelajaran sesuai kurikulum, atau mengajak berdiskusi, menyelenggarakan kajian ilmiah, telaah kitab, ataupun seminar keilmuan, yang terjadi adalah sebuah proses transformasi intelektiual. Tengah terjadi pengkayaan dan pencerahan wacana keilmuan, secara timbal balik. Setiap pembina akan terpacu untuk belajar secara optinal, untuk bisa menyampaikan sejumlah ilmu kpada para kader. Pada saat terjadi diskusi, semua pihak akan tercerahkan dengan berbagai ranah keilmuan.

Ketika para kader dilibatkan dalam berbagai aktivitas kebaikan, yang tengah berlangsung adalah sebuah transformasi amal. Pembina tidak sekedar memberikan ilmu konsepsional, tetapi sekaligus mengenalkan dengan realitas lapangan. Pembina dan para kader berada dalam lapangan amal di masyarakat dalam berbagai macam bentuknya. Dengan demikian, setiap peserta pembinaan tidak dibiasakan untuk hanya asyik dengan ranah keilmuan, akan tetapi mereka juga dibiasakan dengan asyik dalam beraktivitas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar